Sabtu, 03 Januari 2015

Cinta Sesungguhnya



      Tak terasa sekarang sudah tahun 2015, rasanya baru saja masuk tahun 2014,..waktu begitu cepat berlalu,..
      Ku lihat seseorang yang terbaring ditempat tidur, tubuhnya tampak kurus dan matanya tak mampu terbuka. Kupandangi sosok wanita disampingnya,mukanya tampak sedih meratapi teman hidupnya selama 51 tahun yang setia mendampinginya. Mereka adalah kakek dan nenekku. Sejak 2 bulan lalu kakekku sakit, terakhir kali aku melihatnya sehat yaitu tanggal 9 November 2014.
Saat melihat mereka aku teringat tentang cerita percintaan mereka yang sering mereka ceritakan kepadaku. Aku tahu mereka menikah bukan dikarenakan saling jatuh cinta, tetapi mereka dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
    Nenekku pernah bercerita bahwa dulu dia memiliki pacar. Saat gadis nenekku selalu patuh kepada orang tuanya, kehidupannya dulu lumayan enak karena orangtuanya memiliki toko. Pada masa gadisnya nenekku dijuluki kembang desa dikampungnya, hal itu ku ketahui karena ada seorang nenek-nenek yang bercerita kepadaku. Banyak sekali pria yang memperebutkannya. Tapi yah namanya juga zaman dulu, zaman siti nurbaya. Dimana orang tua turut andil dalam menentukan jodoh untuk anaknya. Pada saat itu orang tua nenekku dan kakekku sepakat untuk menjodohkan anaknya, mereka berdua tak pernah bertemu. Nenekku berkata dia terpaksa memutuskan pacarnya demi mentaati perkataan orang tuanya, sehingga nenekku setuju untuk dijodohkan walaupun dia belum pernah melihat calon yang akan mempersuntingnya.
    Dilain pihak kakek ku bercerita, bahwa dia dijodohkan oleh orang tuanya sama seorang gadis. Karena penasaran, kakekpun pergi ke benteng menggunakan sepeda. Disebuah toko dilihatnya seorang gadis, gadis yang begitu cantik. Gadis itu asik memilih ubi yang ada didepannya. Kakekku berusaha melihat wajahnya, tetapi gadis itu tetap menundukkan wajahnya sehingga kakekku kesulitan melihat wajahnya. Pada saat itu kakekku tidak mengetahui bahwa gadis cantik itulah yang akan menjadi istrinya, karena gadis yang dijodohkan dengannya adalah gadis itu,..
Setelah ditentukan semuanya mereka pun menikah pada tahun 1964.
Awalnya mereka tak saling cinta, tapi mereka bisa membangun cinta mereka hingga mereka memiliki cucuk lebih dari 20 dan cicit 1,..



Kamis, 01 Januari 2015

Gak Ada Istilah Malam Tahun Baru

L : tadi mlm kn thun bru,..dak terasa ya udah thun 2015..
I : so??
L : Kok so? Emang kmu ndak ngeraya'in thun bru td mlm?
I : faedah merayakn thun bru td mlm apa?
L : endak gaul,.masak tahun bru ndak ngapa"in..ngumpul" bkar" ayam,bunyikn terompet,kn seru..
I : ndak seru ah,biasa aja.
L : sok sok'an kmu ni,..
I : bukn sok sok'an,.td mlm kn hanya pergantian bulan dari dsember k januari,.
L : kan tahun bru.
I : tahun bru ku udh lwat kemaren..
L : tahun bru apa? Kok udah lwat.kn bru td mlm.
I : tahun bru islam .hehe
L : oh bgto
I : sudahlah jgn sdih gto mukanya..yg terpentingkn mau tahun apa,bulan apa,or hari apa kita tetap memperbaiki diri n berubh kearah yg lbh baik...ok teman,senyum dong
L :(senyum)

Berjilbab itu WAJIB

A : dek kok pakek jilbab
B : kalau ndak pakek jilbab kasian bpak sya bg.
A : apa hubungannya bpak n jilbab?
B : ada hubungannya bg?
A : bingung abg dek.
B : nah kemaren t bg,adk ada bca hadits,intinya gni bunyinya "selangkah anak perempuan keluar tidak menutup auratnya maka selangkah pula ia mengantarkn bpaknya ke neraka" nah itulah seingat sya.
A : ah masak dek?
B : Yah bgtolah adanya.kan d Al-Qur'an jga ada perintah untk menutp aurat.
A : berarti kalau perintah,hukumnya wajib ya? Nah ngapa masih bnyak cwe muslim enggan berjilbab.
B : mereka tau bg hukum berjilbab wajib,n kalau ndak dilaksanakan akan dapat dosa..mereka tau tapi ndak yakin.
A : Adek dari SD kah pakai jilbb?
B : sya pakai jilbab bru 3 thun ..hahaha
A : WHAT??
B : kenapa bg?
A : aneh aja
B : hehehe..sya pun dulu malas pakek jilbb..soalnya panas,ribet..tapi sya bca" buku,n dibimbing jga sma seorg kakak..yah udah tau ilmunya jadi saya mantapkn untk menutp aurat bg..yah bgtolah hidup.kata kakak saya. Allah memberikn semua org hidayah.tergantung orgnya lagi hidayahnya mau diambil or dibiarkn aja.
A :(senyum)

Sabtu, 06 Desember 2014

Muslimah Shalehah



Muslimah bersahaja,....
Hatimu bertaburan zikir dan doa
Berhijab malu dan takwa
Kau jadikan ilmu dan iman sebagai mahkota
Keberadaanmu membawa ketentraman
Seperti kedipan matamu adalah kedamaian
Tebarkan amal di setiap kesempatan
Senyum salam kesantunan

Bermake-up akhlakulkarimah
Berparfum uswatunhasanah
Berkalung butiran-butiran istikamah
Melangkah pasti pada tauhid dan akidah
Dengan payung Dinulislam
Kan jadi pelindung dari panasnya api neraka
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahhu Akbar,...
#KMBDD-Umi Salamah

Kisah Syahidnya Sayyidina Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘anhu



            Sayyidina Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bisa menyertai perang Badar. Ia sangat menyesal dan sering mencelad dirinya sendiri, “ini peperangan besar pertama dalam sejarah islam, dan kamu tidak bisa ikut?” keinginan dia adalah, “jika ada peperangan lagi, aku akan berkorban habis-habisan sebagai tebusannya.” Ternyata kesempatan itu datang pada Perang Uhud. Ia turut serta sebagai pejuang yang gagah berani.
            Pada mulanya Kaum Muslimin telah mendapat kemenangan dalam perang tersebut. Namun, karena suatu kekhilafan, Kaum Muslimin menderita kekalahan pada akhir perang. Kekhilafan itu bermula dari beberapa orang sahabat Radhiyallahu ‘anhu yang ditugaskan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjaga di suatu tempat yang khusus. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “Sebelum ada perintah dari aku, jangan tinggalkan tempat ini! Musuh dapat menyerang dari sini.”
            Ketika permulaan perang, Kaum Muslimin memperoleh kemenangan. Melihat orang-orang kafir melarikan diri, para sahabat Radhiyallahu ‘anhu yang ditugaskan menjaga tempat itu, meninggalkan tempatnya. Mereka beranggapan bahwa peperangan telah selesai, sehingga orang-orang kafir harus dikejar dan harta rampasan dapat dikumpulkan. Sebenarnya pimpinan pasukan penjaga ini sudah melarang dan mengingatkan pesan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kalian jangan meninggalkan tempat ini!” Akan tetapi, mereka menduga perintah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu hanya berlaku ketika perang berlangsung. Oleh karena itu, merekapun turun dari sana.
            Saat itulah pasukan kafir yang sedang melarikan diri itu melihat tempat itu telah kosong. Mereka segera kembali dan menyerang Kaum Muslimin dari arah sana. Hal ini sama sekali tidak diduga oleh Kaum Muslimin, sehingga mereka terdesak karena serangan tiba-tiba itu dan terjepit di antara dua kepungan orang-orang kafir. Karena itulah mereka berhamburan kesana-kemari dalam keadaan panik.
            Sayyidina Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘anhu melihat Sayyidina Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu datang dari arah depan. Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hai Sa’ad, mau ke mana engkau? Demi Allah, aku mencium bau surga datang dari arah Uhud!” Setelah berkata demikian, ia mengacungkan pedang di tangannya dan merangsek ke tengah kaum kafir, denga bertekat tidak akan kembali sebelum syahid. Selepas kesyahidannya, tubuhnya diperiksa sudah rusak. Terdapat lebih delapan puluh luka akibat tebasan pedang dan panah ditubuhnya. Hanya saudara wanitanya yang dapat mengenalinya melalui ujung jari-jari tanganya.

Faidah
            Orang yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menunaikan perintah Allah Subhaanahu Wata’ala, ketika di dunia pun Allah Subhaanahu Wata’ala memberinya kesempatan untuk merasakan nikmatnya surga. Inilah kisah Sayyidina Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘anhu yang telah mencium harum surga saat masih hidup. Jika keikhlasan sudah tertanam pada diri seseorang nikmat surga itu pun akan dirasakan di dunia.
Sumber: Kitab Fadillah Amal (Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a)

Jumat, 05 Desember 2014

Mengobati Hati Resah yang Belum Menikah



Seorang gadis...
Cantik akhlaknya, lembut jiwanya, halus pekertinya.
Duduk terdiam penuh kebimbangan
Ada ketakutan menyelimuti jiwanya
Ada kekhwatiran membayangi langkah hidupnya
Ada asa yang terpendam di lubuk hatinya
Ada rasa yang membungkus kedalam nuraninya

Saat ini sang gadis ragu harus bagaimana
Hingga diusia dewasanya kini
Tak kunjung tiba jejaka yang melamarnya
Tiada pula tanda-tanda seorang laki-laki yang meliriknya
Benarkah jodoh begitu mustahil baginya,..

Sang gadis menerawangi langit jingga
Ia bertaya pada langit

Sang gadis: “Wahai langit,..
Akankah aku bisa seperti Hawa, menjadi luahan cinta bagi seorang Adam yang kesepian di taman surga?”
Langit: “Hawa terlahir untuk mengisi ruang cinta sang Adam.
Bukankah lahirnya engkau ke dunia ini untuk mengisi ruang cinta generasinya Adam.”
Sang gadis: ”Jika begitu, adakah peluang untukku menjadi seperti Hajar yang setia mendukung perjuangan Ibrahim?”
Langit: ”Tentu! Asalkan kau mau mendidik dirimu untuk setia pada kebenaran Tuhanmu.”
Sang gadis: ”Bagaimana bila aku ingin seperti Zulaikha yang tunduk pada rasa khauf si tampan Yusuf kepada Allah ta’ala.”
Langit:”Wahai sang gadis,..
Kau bisa seperti Zulaikha, jika engkau berani mengakui kesalahanmu ketika kau melakukan dosa dan bersegera menuju pintu taubat untuk memasuki istana kesholihan yang hakiki.”
Sang gadis: ”Jika boleh aku ingin seperti Balqis ratu yang hebat itu.”
Langit: ”Boleh, karena Balqis tidak tunduk pada harta, takhta dan mahkota yang dia miliki namun Balqis tunduk dan beriman kepada Robb yang disembah oleh raja Sulaiman.”
Sang gadis: ”Kalau seperti Bunda Khodijah? Bisakah aku seperti dirinya?”
Langit: ”Sungguh,...kau ingin seperti dirinya?”
Sang gadis: ”Iya! Aku ingin seperti dirinya.”
Langit: “ Milikilah kesabaran yang tak bertepi seperti yang kau ketahui betapa Khodijah begitu sabar mendampingi Muhammad. Khodijah korbankan segalanya untuk menyokong perjuangan suci sang suami Rasul mulia. Jika Rasul kesepian dialah yang menemani, jika Rasul pergi untuk berdakwah dia pula yang memotivasi, memakaikan untuk Baginda baju putih berseri, mengharumi pakaian Rasul dengan parfum terbaik. Dan tahukah engkau bagaimana keadaan Rasul ketika pulang dari berdakwah. Khodijah menatap sedih, wajah suci sang Rasul kini berlumuran darah, baju  putihpun berganti merah, wangi parfum berubah menjadi bau amis darah. Namun Khodijah tetap tabah dan yakin untuk selalu mendampingi Baginda hingga jasad terpisah dari raganya. Nah,..wahai sang gadis cukup seperti itu caramu agar dapat seperti Khodijah.”

Gadis itu terdiam sejenak, tundukan wajahnya karena malu.
Bulir mutiara kelembutan rasanya terjatuh melewati pelupuk mata,perlahan dan semakin deras membasahi pipinya.
Gadis itu mulai menyadari,..
Ia mulai mengerti apa yang mesti ia perbuat,..
Kini ia memahami mengapa Adam, Ibrahim, Yusuf, Sulaiman dan Muhammad yang ia harapkan belum juga datang,..
Sang gadis bergumam dalam tangisnya
KARENA AKU BELUM SESOLEHAH YANG MENDAMPINGI MEREKA

#WSP_Hendi Kurniah