Jumat, 05 Desember 2014

Mengobati Hati Resah yang Belum Menikah



Seorang gadis...
Cantik akhlaknya, lembut jiwanya, halus pekertinya.
Duduk terdiam penuh kebimbangan
Ada ketakutan menyelimuti jiwanya
Ada kekhwatiran membayangi langkah hidupnya
Ada asa yang terpendam di lubuk hatinya
Ada rasa yang membungkus kedalam nuraninya

Saat ini sang gadis ragu harus bagaimana
Hingga diusia dewasanya kini
Tak kunjung tiba jejaka yang melamarnya
Tiada pula tanda-tanda seorang laki-laki yang meliriknya
Benarkah jodoh begitu mustahil baginya,..

Sang gadis menerawangi langit jingga
Ia bertaya pada langit

Sang gadis: “Wahai langit,..
Akankah aku bisa seperti Hawa, menjadi luahan cinta bagi seorang Adam yang kesepian di taman surga?”
Langit: “Hawa terlahir untuk mengisi ruang cinta sang Adam.
Bukankah lahirnya engkau ke dunia ini untuk mengisi ruang cinta generasinya Adam.”
Sang gadis: ”Jika begitu, adakah peluang untukku menjadi seperti Hajar yang setia mendukung perjuangan Ibrahim?”
Langit: ”Tentu! Asalkan kau mau mendidik dirimu untuk setia pada kebenaran Tuhanmu.”
Sang gadis: ”Bagaimana bila aku ingin seperti Zulaikha yang tunduk pada rasa khauf si tampan Yusuf kepada Allah ta’ala.”
Langit:”Wahai sang gadis,..
Kau bisa seperti Zulaikha, jika engkau berani mengakui kesalahanmu ketika kau melakukan dosa dan bersegera menuju pintu taubat untuk memasuki istana kesholihan yang hakiki.”
Sang gadis: ”Jika boleh aku ingin seperti Balqis ratu yang hebat itu.”
Langit: ”Boleh, karena Balqis tidak tunduk pada harta, takhta dan mahkota yang dia miliki namun Balqis tunduk dan beriman kepada Robb yang disembah oleh raja Sulaiman.”
Sang gadis: ”Kalau seperti Bunda Khodijah? Bisakah aku seperti dirinya?”
Langit: ”Sungguh,...kau ingin seperti dirinya?”
Sang gadis: ”Iya! Aku ingin seperti dirinya.”
Langit: “ Milikilah kesabaran yang tak bertepi seperti yang kau ketahui betapa Khodijah begitu sabar mendampingi Muhammad. Khodijah korbankan segalanya untuk menyokong perjuangan suci sang suami Rasul mulia. Jika Rasul kesepian dialah yang menemani, jika Rasul pergi untuk berdakwah dia pula yang memotivasi, memakaikan untuk Baginda baju putih berseri, mengharumi pakaian Rasul dengan parfum terbaik. Dan tahukah engkau bagaimana keadaan Rasul ketika pulang dari berdakwah. Khodijah menatap sedih, wajah suci sang Rasul kini berlumuran darah, baju  putihpun berganti merah, wangi parfum berubah menjadi bau amis darah. Namun Khodijah tetap tabah dan yakin untuk selalu mendampingi Baginda hingga jasad terpisah dari raganya. Nah,..wahai sang gadis cukup seperti itu caramu agar dapat seperti Khodijah.”

Gadis itu terdiam sejenak, tundukan wajahnya karena malu.
Bulir mutiara kelembutan rasanya terjatuh melewati pelupuk mata,perlahan dan semakin deras membasahi pipinya.
Gadis itu mulai menyadari,..
Ia mulai mengerti apa yang mesti ia perbuat,..
Kini ia memahami mengapa Adam, Ibrahim, Yusuf, Sulaiman dan Muhammad yang ia harapkan belum juga datang,..
Sang gadis bergumam dalam tangisnya
KARENA AKU BELUM SESOLEHAH YANG MENDAMPINGI MEREKA

#WSP_Hendi Kurniah

Kamis, 05 September 2013

Ketika Aku dituntun untuk Berjilbab



Aku hanyalah seorang wanita lulusan SMA yang menyambung pendidikan di tingkat perguruan tinggi. STKIP PGRI Pontinak adalah sasaran kedua setelah aku tidak lulus di UNTAN. Di STKIP aku mengambil jurusan Matematika. Pada awal perkuliahan aku enggan menggunakan jilbab, walaupun saat tes wawancara aku disuruh oleh dosen untuk menggunakan jilbab. Bagiku jilbab akan menghalangiku terlihat cantik dan indah, karena aku merasa rambutku adalah mahkota yang wajib aku pamerkan, Astafirullah. Tiga bulan duduk dibangku kuliah aku mulai memberanikan diri menggunakan jilbab, yah jilbab yang biasa dan jilbabnya tidak menutupi dadaku. Yah jujur itu terpaksa karena aku sudah terlanjur janji sama dosen itu.
Aku juga punya pacar, yah bisa dibilang aku sayang sama pacarku, yah sayang-sayang gitulah. Kalau urusan solat aku paling malas, pokoknya hal yang berbau agama aku tidak suka karena aku tak tahu agama, yang aku tahu hanyalah “AKU ISLAM”,.. mengaji??? Kalau diingat-ingat udah hampir 2 tahun aku tak pernah menyentuh Al-Qur’an.
Bulanpun terus berganti, tak terasa sudah semester 3. Nah disemester ini aku sudah mulai belajar agama dengan mengikuti liqo’ yang ada di Kampus, tapi cuma ikut-ikutan jak. Dimulai dari sejak itu aku sudah sedikit demi sedikit memperbaiki solatku, yah setidaknya solat maghrib rutin aku lakukan yang lain masih belang-belang.
Di semester 4 aku mengenal seorang kakak, kakak LDK. Orangnya baik, badannya tinggi,jilbabnya lebar, cantik, kemana-mana membawa al-qur’an. Nah muncul keinginanku untuk membeli al-qur’an saku, dengan ditemani kemol aku pergi ke Gramedia. Aku beli al-qur’an yang berwarna hijau, karena aku suka warna hijauuu,. Solat udah diperbaiki, ngaji juga sudah mulai rutin dari hatiku muncul keinginan berjilbab panjang, karena kata kakak kalau udah tahu ilmunya tapi tidak dilakukan itu dosa. Akhirnya dengan hati yang mantap dan semua aku lakukan semata-mata hanya mengharapkan Ridho Allah aku pun berjilbab panjang dan menggunakan rok.
Semua yang kulakukan tak berjalan mulus, cobaan demi cobaan datang menghampiriku. Banyak yang tidak setuju dengan penampilanku,mereka bilang aku fanatik, mereka bilang aku sok alim, mereka bilang aku nanti tidak laku, belum lagi ibuku yang takut aku mengikuti aliran sesat, dan tidak hanya cobaan itu saja, pacarku mulai bertingkah dan terpaksa pada tahun 2012 pada bulan 8 aku memutuskan untuk putus. Yang menguatkanku adalah kakak-kakak ku,sahabatku Annisa (uni), Novri (kemol),titin (buntal), dan nanda.
Hampir setiap malam aku menangis, belum lagi cobaaan dipersahabatanku. Baru saat itulah aku merasakan terluka,sakit yang tak kunjung sembuh karena cobaan tak henti-hentinya menghampiriku. Kalau masalah percintaan,  aku masih belum bisa ikhlas. Rasa ingin pacaran lagi masih mengiang difikiranku tapi aku tetap bersikeras untuk tetap menahan rasa itu. Setiap aku sedih yang kuingat adalah perkataan kakakku yaitu Allah akan menguji kita dengan ujian yang sama karena kita belum lulus ujian itu. Ditambah lagi kehadiran seorang laki-laki yang baik padaku, tapi lagi-lagi sikit demi sedikit Allah menjauhkannya dariku. Sekarang aku sudah semester 7,.. sekarang aku tahu bahwa Allah sayang kepadaku, semoga hatiku diberi ketetapan untuk terus istiqomah.

percakapan ,..
si A : kw kok bisa pakek jilbab panjang?
si B : suka aja pakek jilbab panjang,..
si A : tapi jangan terlalu panjang, jangan terlalu fanatik,..
si B  : gimana ya?? Aku dah terbiasa kayak gini,..kalau ndak gini janggal,..
si A : berubah dah kw, dak kayak dulu,..
si B  : hahahaa,..dulu si aku luar biasa.
si A : tapi jangan terlalu, nanti ape kate orang
si B  : aku si ndak kyk gimana-gimana, kalau cara berpakaian ini dah jadi kebiasaan, dak bisa diubah. Biasa pakek jilbab pendek tapi dada tetap tertutup dan ndak berbayang,..
si A : kok bisa berubah sih sa,..heran aku,..
si B  : hehehe,..aku juga bingung ngapa bisa berubah,..kalau ingat-ingat masalalu akupun dak nyangka bisa jadi kayak gini,..
si A  : tapi jangan berlebihan, bagus si,..
si B  : aku si ikutkan kata hati dan Cuma peduli sama pandangan Allah,.

Kamis, 11 Juli 2013

SHOLAT (Otak Kiri di Bumi, Otak Kanan Menghadap Tuhan)


       Bagi kaum muslim, belajar  mengoptimalkan otak belah kanan akan sangat bermanfaat. Coba pikirkan mengapa sholat kadang terasa membosankan, susah khusyuk dan hanya sering merasa sebagai kewajiban? Tak ada kerinduan untuk melakukannya. Jauh dari kenikmatan. Kenapa ya? Tahukah anda ternyata kita selama ini terlalu terus mengandalkan dan melatih otak belahan kiri saja,..Cobalah kita lebih berdayakan kemampuan otak kanan.
Bagaimana cara menggunakan kemampuan otak kanan?
Imajinasikanlah kita berhadapan langsung dengan Allah ketika sholat,..bayangkanlah,..kalau Allah itu satu-satunya Tuhan yang patut disembah,..bukan harta,kedudukan atau lainnya,..Ketika sujud, sebagai waktu terbaik untuk berdoa, kita bisa mengimajinasikan berada sendirian menyembah Sang Pengabul Doa.
       Dalam Islam ada konsep ihsan yang hanya bisa dipakai orang yang bisa mengoptimalkan otak kanan. Apa itu ihsan? Beribadahlah seolah-olah kita melihat Allah. Jika belum bisa, bayangkan Allah pasti melihat ibadah kita. Kata membayangkan atau megimajinasikan adalah fungsinya otak kanan.
       Tapi jangan cuma otak kanan, karena tidak akan sukses orang yang tidak seimbang. Menurut Setiyo Purwanto, sholat merupakan penyatuan fungsi dari otak kanan dan otak kiri. Rukun sholat yang tertib dari mulai takbir hingga salam adalah pekerjaannya otak kiri sedangkan melesatnya otak ke langit ketujuh bertemu Allah adalah menggunakan otak kanan.
       Sholat seperti menjadi latihan bagi kaum muslim untuk menyatukan fungsi otak kiri dan kanan kita. Jika serius dan ikhlas mengerjakan sholat 5 kali sehari, maka tentu otak kanan dan kiri perlahan-lahan bisa seimbang. Sekali lagi otak kiri memenuhi Fiqh rukun syahnya sholat, sedangkan otak kanan meluncur ke Allah. Perpaduan ini akan menghasilkan power  luar biasa dalam diri kita.

Rabu, 10 Juli 2013

Ketika Berjilbab Itu Adalah Sebuah Pilihan,.



Pada tahun 2009 aku duduk dibangku kelas XII IPS 2, pada saat inilah aku mulai menggunakan jilbab. Tapi aku menggunakan jilbab hanya pada saat sekolah saja, jika diluar sekolah aku masih menggunakan pakaian yang terbuka. Bagiku saat itu jilbab hanyalah tutup kepala yang bisa dimainkan sesuka hati. Toh saat itu aku merasa memakai jilbab hanya untuk memenuhi janjiku kepada Allah (jika masih juara umum dan juara 1 aku akan berjilbab).
Ada hal yang lebih gila lagi yang aku lakukan terhadap jilbabku. Tahun 2010 saat pengumuman kelulusan, Alhamdulillah aku lulus. Ntah setan apa yang merasuki ku sehingga pada saat aku meluahkan kegembiraanku bersama teman-temanku, aku dengan bangganya melepas jilbab yang ku kenakan di depan semua orang yang berada disekitarku saat itu.
Aku melanjutkan pendidikanku di STKIP PGRI Pontianak. Aku telah membuka jilbabku, entah mengapa aku paling benci yang namanya berjilbab, banyak alasan yang ku utarakan  jika ada orang yang menanyakan mengapa aku tidak berjilbab?. Tanggal 18 Mei 2010 hari dimana aku mendaftar di STKIP, aku menjalani 2 tes yaitu tes tertulisdan tes wawancara. Tes yang paling berkesan adalah tes wawancara karena aku disuruh menggunakan jilbab lagi jika lulus di STKIP .
Kronologi kejadian tes wawancara
Pada hari itu aku menggunakan celana hitam, kemeja putik lengan pendek, dan rambut diikat satu tanpa poni. Namaku dipanggil!
“Esa Rizki pangestika” panggil ibu itu
akupun masuk dengan muka menunduk, dan tetap menjaga kesopananku. Akupun dipersilahkan duduk, aku duduk dengan perasaan yang bercampur aduk antara takut dan gugup.
“benar kamu yang difoto?” tanya ibu itu
“iya bu’, itu saya” jawabku gugup
“kok difoto ini kamu berjilbab, mengapa kamu lepas jilbabnya?”
“itu foto saya saat SMA bu’?”
Akupun mulai dites dengan berbagaimacam pertanyaan, dan sempat diceramahi kurang lebih selama 10 menit. Huft akhirnya selesai juga, akan tetapi sebelum aku beranjak dari tempat dudukku, ibu itu berkata.
“saya ingin, jika kamu lulus kamu harus menggunakan jilbab!”
“iya bu’.” Jawabku spotan
Akupun keluar dari ruangan itu, dan berjalan menuju pulang. Di perjalanan aku terus memikirkan perkataan ibu itu, aku berharap dalam hati semoga ibu itu bukan dosen matematika.
Setelah aku dikatakan lulus, aku mengikuti matrikulasi prodi matematika. Aku terkejut, ternyata ibu yang ku jumpai pada tes wawancara itu dosen matematika, namanya bu Fadilah. Dalam hati aku berkata (tamat riwayatku).
Karena aku telah lulus di STKIP, untuk memenuhi permintaan bu Fadilah, yah terpaksa dibulan ketiga aku kuliah, aku beranikan diri menggunakan jilbab. Tapi hanya pada saat kuliah aja aku pakek jilbab, kalau diluar tetap jilbabnya aku lepas.
Walaupun tingkahlaku dan pakaianku masih kurang baik tapi aku ikut mentoring loh (terpaksa karena WAJIB). Setelah mentoring aku ikut Liqo’,yah itu Cuma ikut-ikutan teman aja.
Tak terasa sudah semester 3, pada semester ini aku dipaksa ikut PDKT 1 disingkawang. Lagi-lagi terpaksa terpaksa terpaksa. Tapi Subhanallah setelah kegiatan itu aku berubah, walaupun masih sering membuka aurat akan tetapi tak separah dulu. Seminggu setelah kegiatan itu aku beranikan diri untuk kontinu menggunakan jilbab setiap hari, tapi sesekali sering juga ku buka,hihihihi.
Pada saat smester 4 aku nekat menggunakan jilbab panjang, aku berdiri didepan cermin. Aku menggunakan jilbab tebal panjang sambil bergumam didalam hati (ya Allah, Jika ini akan menjadi identitasku untuk hari nanti,aku ikhlas ya Allah.Bismillah), tidak bisa menahan perasaan sedih, akhirnya nangis deh. Aku ingin berterimakasih kepada kak Hanny,karena dia selalu membimbingku, dan membantuku dalam perubahan yang ku lakukan.
Semester 5 aku tetap menjaga jilbabku sampailah disemester  6, dan sekarang aku semester 7. Alhamdulillah sekarang aku bersyukur telah bisa menutup auratku dengan benar.